Mengenal Nabi Lebih Dekat

05 Desember 2014

Urgensi Doa Sebelum Berhubungan Suami Istri dalam Membentuk Generasi Unggul

Dulu ketika saya belajar ilmu pendidikan, para ahli memiliki pendapat masing-masing tentang kapan pendidikan itu dimulai. Ada yang mengatakan semenjak di dalam kandungan, dan pendapat lainnya. Intinya mereka berpendapat bahwa pendidikan harus dimulai sedini mungkin. Ketika saya belajar ilmu pendidikan Islam, ternyata Islam telah memulai pendidikan lebih dini ketimbang apa yang telah ditetapkan para ahli dari barat. Islam telah memperhatikan pendidikan semenjak memilih pasangan hidup.  Hal ini telah diisyaratkan oleh Allah subhanahu wa ta'ala dalam firmannya:


نِسَاؤُكُمْ حَرْثٌ لَكُم


Isteri-isterimu adalah tempat kamu bercocok tanam (Al-Baqarah: 223)

Allah subhanahu wa ta'ala telah mengumpamakan seorang istri ibarat ladang untuk bercocok tanam. Seorang petani yang ingin hasil panennya bagus tentunya tidak sembarang memilih tanah. Demikian juga dalam memilih pasangan. Terdapat isyarat dalam perumpamaan ini agar kita tidak sembarangan memilih pasangan hidup. Hal ini lebih diperjelas lagi dengan sunnah-sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa salam lainnya. Seperti 


"fazhfar bidzati din taribat yadak" beruntunglah yang memilih karena agamanya. Atau,


"Tazawwajul wadudal walud" nikahilah perempuan yang subur dan berkasih sayang. 


"A nazharta ilaiha?" Sudahkah kamu melihatnya? "Fanzhur fa inna fi a'yunil anshar syai'a" lihatlah calonmu karena wanita Anshar ada sesuatu di matanya.


 Dan masih banyak sabda beliau lainnya yang mengisyaratkan kepada kita untuk benar-benar teliti ketika memilih.


Diantara guna dari memilih pasangan yang benar adalah lahirnya para ulama. Dibalik nama besar para ulama terdapat seorang ibu yang shalihah. Sebut saja Imam Malik  rahimahullah yang ibunya selalu menasehati beliau untuk menghormati dan mengagungkan ilmu. Beliau selalu menasehati anaknya untuk mengenakan pakaian yang bagus untuk menghadiri majelis ilmu. Atau Imam Bukhari rahimahullah, ibunya selalu bangun malam mendoakan anaknya. Imam Bukhari  yang buta ketika kecilnya mendapatkan kembali penglihatannya di usia sepuluh tahun. Hal ini karena ibunya tidak pernah putus asa memohon kepada Allah untuk mengembalikan penglihatan anaknya.


 Selain memilih pasangan, memperhatikan adab ketika berhubungan suami istri juga merupakan bagian dari pendidikan terhadap anak. Salah satu diantara adabnya adalah mengucapkan doa sebelum melakukannya.  Doa tersebut tertuang dalam sabda beliau shallallahu 'alaihi wa salam:


لَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَأْتِىَ أَهْلَهُ فَقَالَ بِاسْمِ اللهِ ، اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ ، وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا . فَإِنَّهُ إِنْ يُقَدَّرْ بَيْنَهُمَا وَلَدٌ فِى ذَلِكَ لَمْ يَضُرُّهُ شَيْطَانٌ أَبَدًا


"Ketika salah seorang di antara kalian hendak mendatangi istrinya kemudian mengucapkan: 'Bismillah Allahumma Jannibna asy-syaithana wajannibisy-syaithana ma razaqtana'


(Dengan nama Allah, ya Allah jauhkanlah kami berdua dari syaithan, dan jauhkan pula syaithan itu dari anak yang akan Engkau anugerahkan kepada kami).


Jika ditakdirkan terjadinya anak dari hubungan keduanya, maka syaithan tidak akan bisa mendatangkan bahaya bagi anaknya selamanya." [HR. Bukhari dan Muslim]


 Guru kami Syekh Abdurrahman Asy-Syamrani hafizhahullah pernah berpesan untuk mengajarkan sunnah (baca: tuntunan Nabi) ini kepada masyarakat. Sunnah  yang sudah sepatutnya dilakukan sepasang suami istri dalam rangka mendidik anaknya. Namun banyak umat Islam telah melupakan sunnah ini. Tidak tanggung-tanggung, guru kami malah menganjurkan agar mengajarkan sunnah ini pada kesempatan khutbah Jum'at. Artinya ditengah-tengah publik pun bukan suatu aib ketika seorang penuntut ilmu mengajarkan suatu kebaikan. Meskipun kebaikan tersebut berkenaan dengan perkara yang dianggap sebagian orang tabu untuk dibicarakan. Hal ini karena kita sama-sama melihat kenyataan yang menyedihkan. Media massa sering mengangkat isu-isu kenakalan remaja. Gadis-gadis hamil di luar nikah. Jumlah pengguna narkoba terus meningkat, dimana pelakunya sebagian besar adalah remaja. Itu yang tertangkap oleh media, nah yang tidak ketahuan kira-kira berapa jumlahnya? Tentunya kita tidak ingin hal ini terjadi dan tentunya kita sama-sama resah dengan keadaan ini.


 Melalui tulisan sederhana ini, setidaknya saya ingin melaksanakan wasiat guru kami untuk mengajarkan sunnah ini kepada masyarakat. Saya juga memandang sunnah ini memiliki peran besar bagi terciptanya sebuah masyarakat yang memiliki kualitas iman dan takwa. Kok bisa? Ya di awali dari sepasang suami istri. Ketika mereka berdua senantiasa mengamalkan doa ini. Allah akan menganugerahkan bagi mereka berdua anak-anak yang shalih. Maka lahirnya keluarga kecil yang dihiasi keimanan dan ketakwaan. Jika ada dua pasangan yang mengamalkan doa ini dan Allah menganugerahkan kepada mereka anak-anak yang shalih, maka akan ada dua keluarga yang dihiasi keimanan dan ketakwaan. Jika ada tiga, empat, sepuluh dan seterusnya. Bukankah masyarakat yang terdiri dari keluarga-keluarga tersebut adalah masyarakat yang beriman dan bertakwa? Maka berikut ini adalah saya paparkan sedikit penjelasan mengenai sunnah yang mulia ini.


Kapan mengucapkan doa ini?


لَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَأْتِىَ أَهْلَهُ
"Ketika salah seorang di antara kalian hendak mendatangi istrinya"

    Dari perkataan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa salam ini dapat kita ketahui kapan kita harus mengucapkan doa ini. Doa ini hendaknya diucapkan di awal ketika hendak berhubungan. Yaitu d
i awal perbuatan atau sebelum melakukan muqaddimah cumbu rayu atau yang dikenal dengan istilah foreplay dan sebelum melepas pakaian. Bukan sebelum penetrasi ke lubang farj. Dalam suatu hadits Rasulullah shallallahu 'alaihi wa salam bersabda:

سَتْرُ مَا بَيْنَ أَعْيُنِ الجِنِّ وَعَوْرَاتِ بَنِي آدَمَ إِذَا وَضَعُوا ثِيَابَهُمْ أَنْ يَقُولُوا بِسْمِ اللهِ


Penghalang pandangan jin terhadap aurat anak cucu Adam adalah ucapan "BISMILLAH" ketika melepas pakaiannya. [HR. Thabrani dalam Mu'jam Al-Ausath]


Hadits ini menunjukkan bahwa ketika kita melepas pakaian kita, jin ikut serta melihat dan menikmati aurat kita. Maka untuk menghalanginya hendaknya kita membaca bismillah sebelum melepas pakaian. Nah, bagi pasangan suami istri, jika mereka melepas pakaian untuk melakukan hubungan namun tidak mengucapkan bismillah. Maka jin ikut menikmati aurat mereka. Maka hendaknya ucapan bismillah kita lakukan sebelum melakukan perbuatan apapun dalam rangka menutup sekecil apapun celah masuk setan.


Bagaimana Jika Lupa?

Bagaimana jika lupa, dan baru ingat ketika melakukannya? Maka diucapkan ketika mengingatnya. 

Hal ini berdasarkan salah satu riwayat hadits ini yang berbunyi "hina ya'tiya ahlahu" ketika sedang melakukan hubungan. Mayoritas riwayat hadits ini mengisyaratkan bahwa doa ini diucapkan sebelum melakukan. Adapun riwayat yang mengatakan "ketika melakukan hubungan" cenderung kepada makna bahwa doa tersebut boleh diucapkan ketika sedang berhubungan. Namun yang lebih utama adalah mengucapkannya sebelum melakukan hubungan dengan alasan:


1. Mayoritas riwayat hadits ini mengisyaratkan bahwa doa diucapkan sebelum dilakukannya hubungan.


2. Asal pengucapan bismillah memang ketika kita memulai suatu pekerjaan bukan ditengah-tengah pekerjaan. Mengucapkan bismillah di tengah pekerjaan lebih-lebih karena lupa diucapkan di awal. Sebagaimana ketika kita lupa mengucapkan bismillah sebelum makan. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa salam mengajarkan untuk mengucapkan bismillah awwaluhu wa akhiruhu ditengah-tengah makan.


3. Menutup pintu bagi setan hingga tidak ada kesempatan sedikitpun bagi mereka untuk ikut menikmati hubungan suami istri yang dilakukan oleh pasangan. Berbeda jika kita mengucapkannya ditengah-tengah, bisa saja di awal setan ikut mencicipi. Syaikhul Islam Ibnu Hajar rahimahullah menukilkan sebuah atsar dari Imam Mujahid bin Jabr rahimahullah bahwa mereka yang melakukan hubungan suami istri dan tidak mengucapkan basmalah maka setan akan ikut menjima' istrinya. [Fathul Bari, bab ma yaqulur rajul idza ata ahlahu]



Lalu makna lafadz doa selanjutnya: 


Allahumma jannibnas syaithan


"Ya Allah jauhkanlah kami berdua dari syaithan"


Inilah salah satu penggalan dalam doa ini. Kita memohon kepada Allah agar dijauhkan dari setan. Doa ini menunjukkan kepada kita bahwa setan senantiasa ikut campur dan menggoda manusia. Hingga ketika seorang melakukan hubungan suami istri-pun setan masih juga ikut. Maka dari itu kita diperintahkan untuk berlindung kepada Allah dari gangguannya. Bagaimana setang mengganggu manusia yang sedang melakukan hubungan suami istri? Salah satunya dia ikut merasakan kenikmatan hubungan tersebut. Sebagaimana telah dijelaskan dalam atsar Mujahid tadi.


Syekh Wahid Abdussalam Bali hafizhahullah dalam kitabnya Ash-Sharimul Battar mengatakan bahwa ada seorang jin yang sudah bertaubat mengatakan kepada beliau. Dulu sebelum bertaubat dia sering ikut merasakan kenikmatan tubuh istri yang dijima' oleh suaminya. Karena suaminya tidak membaca doa ini. Na'udzu billah…


Doa ini juga merupakan benteng bagi sepasang suami istri dari sihir. Banyak kasus sihir pemisah yang menyebabkan pasangan suami istri tidak bisa melakukan hubungan. Kita tentunya sering mendengar ungkapan cinta ditolak dukun bertindak. Boleh jadi sang istri adalah primadona yang menjadi pujaan banyak lelaki sebelum dia menikah. Karena tidak rela dinikahi seorang lelaki, lantas pihak ketiga yang dengki dengan pernikahan tersebut menyihir mereka. Ada yang kasusnya kejantanannya  tiba-tiba melemah padahal sebelumnya bergairah. Ada yang mendapati seolah ada penghalang seperti daging di lubang farji istrinya. Ini semua adalah kerjaan syaithan dan tukang sihir la'natulah 'alaihim. Dengan doa ini insya Allah tipu daya mereka tidak akan berarti apa-apa. Setan mana yang berani mendekat jika Allah yang menjauhkannya dari kita? Dukun mana yang bisa menembus perlindungan Allah? Doa ini adalah salah satu perlindungan Allah yang paling kuat ketika dibaca oleh hambanya yang beriman.


Syekh Abdussalam Bali hafizhahullah juga mengisahkan sebuah kisah nyata. Ada seorang pemuda yang mendakwahkan tauhid di suatu desa. Pemuda tersebut mengingatkan masyarakat tentang pentingnya tauhid dan bahaya syirik. Pemuda tersebut tidak takut menyebutkan kebusukan tipu daya tukang sihir. Di mimbar, di majelis, dan di manapun, bahkan dia secara terang-terangan menyebutkan nama-nama tukang sihir agar masyarakat waspada terhadapnya.


 Ada seorang tukang sihir di desa itu yang sangat terkenal. Ketenaran namanya ini dikarenakan dia sering memeras masyarakat untuk memberinya sejumlah uang. Jika ada pasangan yang akan menikah, dia harus datang ke dukun  itu untuk menyerahkan sejumlah uang agar proses pernikahannya langgeng. Bisa dibilang upeti lah. Jika tidak, jangan harap pasangan tersebut bisa melalui malam pertamanya dengan bahagia. Nah, pemuda tadipun mengingatkan masyarakat agar jangan mendatanginya dan jangan takut kepadanya. Namun sayangnya pemuda tadi belum menikah. Hingga akhirnya tiba saatnya dia menikah. Pemuda inipun merasa takut, jangan-jangan dukun tadi ini bisa mengganggu malam pertamanya. Akhirnya dia mendatangi Syekh Wahid dan menceritakan kejadian ini.


Syekh mengatakan: "beritahu kepada dukun itu kapan hari pernikahanmu. Nyatakan bahwa anda menantangnya dengan izin Allah. Silahkan dukun itu mengganggu malam pengantin anda. Kalau perlu datangkan dukun-dukun lain untuk membantunya."


Pemuda tadi ragu dan mengatakan: "anda serius syekh?"


Syekh menjawab: "ya mengapa tidak? Kemenangan selalu berada di pihak orang-orang yang beriman."


Masyarakatpun menunggu hari tersebut. Mereka bertanya-tanya siapa yang akan menang, dukun itu ataukah pemuda tadi? Namun setelah hari tersebut tiba. Ternyata pemuda tersebut tidak apa-apa. Dan dia melalui malam pengantinnya dengan aman dan bahagia. Masyarakatpun akhirnya semakin percaya dengan kebenaran dakwah tauhid. Allahu Akbar walillahil hamd. Salah satu benteng pemuda tersebut adalah doa yang diajarkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa salam ini tadi. Kisah selengkapnya silahkan merujuk ke Kitab Ash-Sharimul Battar fi Tashaddi lis Saharatil Asyrar, hal: 210.


Lafadz Selanjutnya: 


Wa jannibis syaithana ma razaqtana


"Dan jauhkanlah syaitan dari anak yang akan Engkau anugerahkan kepada kami"


 Di sinilah letak keistimewaan pendidikan dalam Islam. Islam mendidik tidak hanya dengan pengajaran. Islam mendidik tidak hanya dengan perintah dan larangan. Namun Islam juga mendidik dengan doa. Model pendidikan inilah yang tidak pernah terpikirkan oleh barat. Bahkan mereka mengingkari dan tidak menganggapnya sebagai bagian dari pendidikan.


 Dari hubungan suami istri terdapat dua kemungkinan. Kemungkinan terlahir seorang anak dan kemungkinan tidak terlahir seorang anak. Di atas kedua kemungkinan ini kita tetap dituntut untuk mengucapkan doa ini. Apabila dihasilkan seorang anak, maka kita akan mendapatkan keutamaan dengan selamatnya anak-anak kita dari godaan setan. Jika tidak, maka kita mendapat keutamaan dengan dicatatnya hubungan suami istri ini sebagai perbuatan yang bernilai ibadah. Maka alangkah ruginya mereka yang meninggalkan keutamaan doa ini dengan tidak mengucapkannya sebelum memulai hubungan.


Ketika sang anak lahir setan tidak bisa mendatangkan bahaya bagi anak tersebut. Bahaya bagaimana? Yaitu bahaya fisik dan bahaya di dalam agamanya. Bahaya fisik seperti, kesurupan dan sihir. Masyarakat Arab mengenal suatu jenis jin yang suka mengganggu anak-anak yang disebut ummu shibyan, mungkin dalam budaya kita disebut kuntilanak. Allah subhanahu wa ta'ala akan melindungi anak-anak kita dari ummu shibyan berdasarkan hadits ini. Bagaimana bahaya dalam agama ? Tentu Setan sangat susah menjerumuskan anak Adam dari hasil hubungan yang diiringi doa ini ke dalam kemaksiatan.


Ini adalah jaminan dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa salam. Akankah kita meragukan janji Nabi kita yang tidak pernah berbohong ini? Sungguh keji sikap mereka yang ragu terhadap janji ini. Namun perlu dipahami, bukan berarti anak dari hasil hubungan ini akan lepas seratus persen dari dosa dan maksiat. Namun anak hasil dari hubungan suami istri yang diiringi doa ini akan masuk ke dalam golongan yang disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta'ala dalam firman-Nya:


إِنَّ عِبَادِي لَيْسَ لَكَ عَلَيْهِمْ سُلْطَانٌ إِلَّا مَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْغَاوِينَ   


Sesungguhnya hamba-hamba-Ku tidak ada kekuasaan bagimu(yaitu setan) terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikuti kamu, Yaitu orang-orang yang sesat.

[Al-Hijr: 42]

Juga firman-Nya:


وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ

Orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau Menganiaya diri sendiri, mereka akan segera ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Mereka-pun tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, dan mereka mengetahuinya.

[Ali Imran: 135]


Dan firman-Nya:


إِنَّ الَّذِينَ اتَّقَوْا إِذَا مَسَّهُمْ طَائِفٌ مِنَ الشَّيْطَانِ تَذَكَّرُوا فَإِذَا هُمْ مُبْصِرُونَ


Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa ketika terjerumus ke dalam godaan syaitan, mereka segera ingat kepada Allah, Maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya.

[Al-A'raf: 201]

Jadi bukan berarti anak-anak hasil hubungan yang disertai doa ini ma'shum (terbebas) dari perbuatan dosa. Mereka tetap sesekali terjerumus ke dalam perbuatan dosa. Namun mereka segara menyadarinya dan segera memohon ampun kepada Allah subhanahu wa ta'ala.


 Sering kita temui anak-anak yang diberitahu sekali oleh orang tuanya langsung nurut. Dan ada anak yang diberitahu berkali-kali tapi tidak nurut, istilah kerennya bandel. Ini jangan-jangan orang tuanya dulu tidak membaca doa ini ketika berhubungan. Maka untuk para orang tua jangan terburu-buru menyalahkan anak-anak anda ketika mereka bandel dan sulit diatur. Ingat-ingat!, dulu ketika anda berhubungan, sudahkah membaca doa ini?


Sebagai tambahan, saya ingin menghadirkan bukti nyata dari kebenaran sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa salam ini. Yaitu bibi saya sendiri. Pernah suatu ketika beliau menanyakan, apakah ada doa yang diajarkan Nabi shallallahu 'alaihi wa salam sebelum melakukan hubungan. Saya katakan, "ya ada". Oooh… kalau begitu yang kami lakukan benar. Beliau hanya ingin memastikan apakah doa yang beliau dapat di buku bacaan memang berdasarkan sunnah Nabi shallallahu 'alaihi wa salam atau tidak. 


Kemudian beliau menceritakan bahwa tetangganya pernah menyakan, "nyonya kok anak kamu pinter, diberitahu sekali langsung nurut? La… anakku sampe bibir ini lepas, tetap bandel" Bibi saya menjawab, "pasti kamu dulu waktu berhubungan gk baca doa ya…?". He he iya eh…habis enak sih…


Maka dari itu hubungan suami istri ini bukan hanya sekedar mencari kenikmatan dunia saja. Namun hubungan suami istri ini juga merupakan bagian dari pendidikan anak. Yang memiliki pengaruh terhadap proses pembentukan karakter mereka.


Kota Nabi, 29 Shafar 1433 H


Hamba Faqir, Haidir Rahman Rz, Lc. Alumnus Universitas Islam Madinah Fakultas Hadits  


28 November 2014

Tahukah Anda? Tiga Ulama yang Menikahi Putri Gurunya!

Tiga Ulama yang Menikahi Putri Gurunya!

1. Imam Said bin Musayyib menikahi putri guru terdekatnya yaitu sahabat Abu Hurairah radhiyallahu anhu.

2. Imam ibnu Katsir menikahi putri gurunya Abul Hajjaj Al Mizzi (Imam ahli Hadits di zamannya).

3. Al Hafidz Nuruddin Al Haitsami menikahi putri gurunya Al Hafidz Abdurrahim Al Iraqy.

Wallahu A'lam.

Abu Hurairoh, Mahasiswa Fakultas Hadits Semester 4 Universitas Islam Madinah

23 November 2014

Hadits Arbain Nawawi [4]: Bagaimana Penciptaan Manusia?

Hadits Arbain Nawawi [4] 

عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَبْدِ اللهِ بنِ مَسْعُوْدٍ  قَالَ: حَدَّثَنَا رَسُوْلُ اللهِ  وَهُوَالصَّادِقُ الْمَصْدُوْقُ: إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِيْنَ يَوْماً نُطْفَةً، ثُمَّ يَكُوْنُ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُوْنُ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يُرْسَلُ إِلَيْهِ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيْهِ الرُّوْحَ، وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ: بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيْدٌ. فَوَاللهِ الَّذِي لاَ إِلَهَ غَيْرُهُ إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُهَا، وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَيَدْخُلُهَا. رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ.

Dari Abu Abdurrahman Abdullah bin Mas’ud  beliau berkata: Rasulullah  menyampaikan kepada kami dan beliau adalah orang yang benar dan dibenarkan:

 “Sesungguhnya salah seorang dari kalian dikumpulkan penciptaannya di perut ibunya sebagai setetes mani selama empat puluh hari, kemudian berubah menjadi darah yang menggumpal selama empat puluh hari, kemudian menjadi segumpal daging selama empat puluh hari. Kemudian diutus kepadanya seorang malaikat lalu ditiupkan padanya ruh dan dia diperintahkan untuk menetapkan empat perkara: menetapkan rizkinya, ajalnya, amalnya dan kecelakaan atau kebahagiaannya. 

Demi Allah yang tidak ada ilah selain-Nya, sesungguhnya di antara kalian ada yang melakukan perbuatan ahli syurga hingga jarak antara dirinya dan syurga tinggal sehasta akan tetapi telah ditetapkan baginya ketentuan, dia melakukan perbuatan ahli neraka maka masuklah dia ke dalam neraka. Dan sesungguhnya diantara kalian ada yang melakukan perbuatan ahli neraka hingga jarak antara dirinya dan neraka tinggal sehasta akan tetapi telah ditetapkan baginya ketentuan, dia melakukan perbuatan ahli syurga  maka masuklah dia ke dalam syurga.” 

(Riwayat Bukhari dan Muslim).

Diterjemahkan Oleh: Sofyan Saladin, Mahasiswa Fakultas Hadits Semester 6 Universitas Islam Madinah

22 November 2014

Melihat Sifat Fisik Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia pilihan. Oleh karenanya Allah ‘azza wa jalla menganugerahinya kesempurnaan ragawi ataupun ruhani. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling indah penampilan fisiknya dan paling sempurna kepribadiannya. Kesempurnaan dan keistimewaan yang tidak dimiliki oleh insan lainnya.
Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak terlalu tinggi, juga tidak pendek, tidak putih sekali (kulitnya) juga tidak kecoklatan. Beliau rambutnya tidak keriting pekat, juga tidak lurus terurai. Warna (kulitnya) kecoklatan, jika beliau berjalan, berjalan dengan tegak.
Barâ` bin 'Azib berkata: "Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah lelaki yang berambut ikal, berpostur sedang, bahunya bidang, berambut lebat sampai cuping telinga.
Ali bin Abi Thalib juga berkata menyifati diri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Beliau bukan orang yang terlalu tinggi dan tidak pula terlalu pendek, orang yang berperawakan sedang-sedang, rambutnya tidak kaku dan tidak pula keriting, rambutnya lebat, tidak gemuk dan tidak kurus, wajahnya sedikit bulan (oval), bola matanya sangat hitam, bulu dadanya lembut, tidak ada bulu-bulu di badan, telapak tangan dan kakinya tebal, jika berjalan seakan-akan sedang berjalan di jalanan yang menurun (cepat), jika menoleh seluruh badannya ikut menoleh, di antara kedua bahunya ada tanda tanda kenabian, yaitu tanda para nabi, telapak tangannya yang terbagus, dadanya yang paling bidang, yang paling jujur bicaranya, yang paling memenuhi perlindungan, yang paling lembut perangainya, yang paing mulia pergaulannya, siapa pun yang tiba-tiba memandanganya tentu segan kepadanya, siapa yang bergaul dengannya tentu akan mencintainya.” Kemudian dia berbicara lagi, “Aku tidak pernah melihat orang yang seperti beliau, sebelum maupun sesudahnya.”
Dalam sebuah riwayat darinya disebutkan, “Kepalanya besar, tulang-tulang sendirnya besar, bulu matanya panjang, jika berjalan seperti sedang berjalan di jalanan yang menurun.”
Jabir bin Samurah berkata, “Mulutnya besar, matanya lebar dan tidak banyak tumpukkan dagingnya.”
Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: "Rasulullah berkulit putih bagaikan disepuh oleh perak, rambutnya agak bergelombang/ikal"
Abu Thufail berkata, “Kulitnya putih, wajahnya berseri-seri dan perawakannya sedang-sedang (tidak gemuk dan tidak kurus, tidak tinggi dan tidak pendek)”
Jaabir radhiyallahu ‘anhu berkata ketika mensifati kesempurnaan fisik Rasulullah : "Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di malam purnama, beliau mengenakan kain merah. Aku mulai memandang beliau dan bulan, ternyata beliau lebih indah dibandingkan bulan"
Kesempurnaan fisik dan akhlaq Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membuat siapapun yang hidup di sekitar beliau akan mencintainya, bahkan orang yang belum melihatnyapun akan berharap bisa melihatnya.
Sebagaimana disebutkan dalam sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam:
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّ رَسُوْلَ اللَّهِ -صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - قَالَ )) مِنْ أَشَدِّ أُمَّتِيْ لِيْ حُبًّا نَاسٌ يَكُونُونَ بَعْدِيْ يَوَدُّ أَحَدُهُمْ لَوْ رَآنِى بِأَهْلِهِ وَمَالِهِ ((
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: "Umatku yang amat sangat mencintaiku adalah manusia yang datang setelahku, salah seorang mereka berkeinginan seandainya ia dapat melihatku meskipun dengan (mengorbankan) keluarga dan hartanya." (HR Muslim)
Salah seorang mengungkapkan perasaannya di hadapan al-Miqad bin al-Aswad, sebagaimana terdapat dalam kisah berikut:
عَنْ جُبَيْرٍ بْنِ نُفَيْرٍ عَنْ أَبِيْهِ قاَلَ جَلَسْنَا إِلَى الْمِقْدَادِ  بْنِ اْلأَسْوَدِ يَوْماً فَمَرَّ بِهِ رَجُلٌ فَقَالَ: طُوْبَىْ لِهَاتَيْنِ الْعَيْنَيْنِ اللَّتَيْنِ رَأَتاَرَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاللهِ لَوَدَدْناَ أَناَّ رَأَيْناَ مَا رَأَيْتَ وَشَهِدْناَ مَا شَهِدْتَ
Jubair bin Nufair meriwayatkan dari bapaknya, ia berkata: " Pada suatu hari, kami duduk di dekat Miqdâd bin al-Aswad. Lalu seseorang lewat sambil berkata (kepada al-Miqdâd): "Kebaikanlah bagi dua mata ini yang melihat Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam." (Jubair menanggapi): “Demi Allah, kami berkeinginan melihat apa yang engkau lihat, dan menyaksikan apa yang engkau saksikan". [HR Bukhari dalam Adabul Mufrad dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani]
Bahkan syaithan pun tidak dapat menyerupai beliau:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : وَمَنْ رَآنِي فِي الْمَنَامِ فَقَدْ رَآنِي حَقًّا فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لَا يَتَمَثَّلُ فِي صُورَتِي وَمَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ
Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda: "Barangsiapa melihatku dalam mimpi, maka sungguh ia telah melihatku secara benar. Sesungguhnya setan tidak bisa menyerupai bentukku. Barangsiapa yang berdusta atasku secara sengaja maka ia telah mengambil tempat duduk dalam neraka". [HR Bukhari dan Muslim]
Semoga pengetahuan kita tentang sifat sifat fisik Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dapat menambah kecintaan kita kepadanya. Dan orang-orang yang benar-benar cinta kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, sekalipun tidak dapat melihat sifat fisik Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam secara nyata waktu di dunia, namun sifat-sifat, tuntunan dan ajaran beliau selalu hadir dalam hatinya.


Diringkas dari:
  • Mukhtashor Syamaail Muhammadiyah karangan Syekh Muhammad Nashiruddin Al Albani
  • Ar Rakhiiqul Makhtuum karangan Syekh Shofiyyurohman Al Mubaarokfuury
  • Siroh Nabawiyah Sohihah karangan Dr. Akram Dhiyaa Al ‘Umary


Oleh: Khalid Abdurrahman, Mahasiswa Fakultas Dakwah Semester 4 Universitas Islam Madianah

Tahukah Anda? Tentang Tiga Ulama Sayfi'iyyah Yang Masing-Masing Lahir dan Wafat Secara Berurutan

Pada abad kedelapan Hijriyah, hidup tiga ulama besar syafi'iyah. Orang-orang berbondong-bondong datang dari penjuru dunia, dalam rangka menimba ilmu dari mereka. Diantara murid yang paling unggul adalah Al Hafidz ibnu Hajar Al-Asqalani. Dan Yang menakjubkan dari sejarah hidup mereka, bahwa masing-masing lahir dan wafat secara berurutan. Berikut nama mereka..

1. Sirajuddin Umar bin Al Mulaqqin As syafi'i. 723-804 H. Terkenal dengan banyaknya karya-karya beliau.


2. Sirajuddin Umar Al Bulqini As syafi'i. 724-805 H. Terkenal dengan kedalaman Ilmu beliau dalam menguasai fiqh madzhab Imam Syafi'I.


3. Al Hafidz Zainuddin Abdurrohim Al Iraqy. 725-806 H. Terkenal dengan keahlian beliau dalam ilmu hadits.


Jadi, umur masing-masing delapan puluh satu tahun.
Rahimahumulloh.


Abu Hurairoh, Mahasiswa Fakultas Hadits Semester 4 Universitas Islam Madinah

Sekilas Tentang Rasulullah -Shalallahu 'alaihi wa sallam-

Nasab Rasulullah -shallallahu 'alaihi wasallam- :

Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam bin Abdillah bin Abdil Muththalib bin Hasyim bin Abdi Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murroh bin Ka'b bin Lu-aiy bin Gholib bin Fihr bin Malik bin An Nadhr bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhor bin Nizar bin Ma'add bin 'Adnan. Dan 'Adnan adalah keturunan Nabi Isma'il bin Nabi Ibrahim –'alaihimassalaam-

Nama-nama beliau :

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memiliki beberapa nama, sebagaimana disebutkan dalam hadits-hadits yang shahih, di antaranya : Ahmad, Muhammad, Al Mahiy, Al Hasyir, Al 'Aqib, Nabiyyur Rahmah, Nabiyyut Taubah, Nabiyyul Malahim, Al Muqoffiy.

Adapun Toha dan Yasin, bukan merupakan nama-nama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, ia adalah nama salah satu surat dalam Al Quran layaknya Qof, Shod, dan lain-lain.

Imam Baihaqy berujar: "sebagian ulama ada yang menambahkan, padahal Allah menamakan Nabi-Nya dalam Al Quran dengan : Nabi, Rasul, Ummiy, Syahid, Mubasysyir, Nadzir, Da'iyan illahi bi idznihi, Siroj, Munir, Ro-uf, Rohim, Mudzakkir, dan Allah menjadikannya sebagai rahmat, nikmat dan Hadi"

Kelahiran Beliau:

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dilahirkan pada hari senin, bulan Rabi'ul awwal, tahun gajah. Para ulama berbeda pendapat tentang tanggal kelahiran beliau, ada yang mengatakan tanggal 2, 8, 10, dan 12. Dan perbedaan pendapat dalam masalah ini sangat kuat sehingga kita tidak bisa memastikan tanggal kelahiran beliau

 Wafatnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam:

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam wafat pada hari senin, bulan Rabi'ul Awwal, tahun 11 Hijriyah. Ketika itu beliau berumur 63 tahun.

Dan para ulama juga berbeda pendapat dalam menentukan tanggal wafat beliau, sebagian mengatakan tanggal 10 sebagaimana pendapat Ibnu Hajar dan ulama lainnya, sebagian lagi mengatakan tanggal 12, dan ini merupakan pendapat mayoritas para ulama dan dipilih oleh Imam Nawawi, ada pula yang mengatakan tanggal 13, ini juga pendapat sebagaian para ulama, Allahu a'lam

Anak-anak beliau:

Rasulullah memiliki tujuh orang anak, tiga orang laki-laki dan empat orang perempuan. Seluruh anak beliau berasal dari Khadijah radhiyallahu'anha kecuali Ibrahim ia adalah anak dari Mariah Al Qibthiyyah radhiyallahu'anha

Laki-laki :
Qosim
Abdullah
Ibrahim

Perempuan :

Zainab (Menikah dengan Abul 'Ash bin Rabi' radhiyallahu 'anhu)

Ruqayyah (Menikah dengan 'Utsman bin 'Affan radhiyallahu 'anhu)

Ummu Kultsum (Menikah dengan 'Utsman radhiyallahu 'anhu setelah Ruqayyah meninggal)

Fathimah (Menikah dengan 'Ali bin Abu Thalib radhiyallahu 'anhu)

Dan urutan berdasarkan usia : Qosim, Zainab, Ruqayyah, Ummu Kultsum, Fathimah, Abdullah, dan Ibrahim. Seluruhnya meninggal ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam masih hidup kecuali Fathimah, ia meninggal 6 bulan setelah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam wafat.

Istri-Istri Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam (Ummahatul Mukminin) :

Khodijah binti Khuwailid
Saodah binti Zam'ah
'Aisyah binti Abu Bakar Ash Shiddiq
Hafshah binti 'Umar bin Khoththob
Zainab binti Khuzaimah
Ummu Salamah (Hindun) binti Abu Umayyah
Zainab binti Jahsy
Juwairiyyah binti Al Harits
Ummu Habibah (Ramlah) binti Abu Sufyan
Shafiyyah binti Huyay bin Ahthob
Maimunah binti Al Harits –Radhiyallahu 'An
Khadijah dan Zainab binti Khuzaimah meninggal ketika Rasululah shallallahu 'alaihi wasallam masih hidup.

Paman-paman Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam:

Abdul Muthallib (kakek Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam) memiliki sebelas orang putra :Al Harits, Qutsam, Az Zubair, Hamzah, Al 'Abbas, Abu Tholib, Abu Lahab, Abdul Ka'bah, Hajl, Dhoror, Al Ghaidaq.
Dan yang masuk Islam di antara mereka adalah Al Abbas dan Hamzah.

Bibi Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam:

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memiliki enam orang bibi, putri-putri dari Abdul Muththalib kakek beliau : Shofiyyah, ia masuk islam dan ikut berhijrah ke Madinah, 'Atikah, ada yang mengatakan ia juga masuk islam, Barroh, Arwa, Umaimah, dan Ummu Hakim.

Para penulis wahyu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam:

Abu Bakar Ash Shiddiq, Umar bin Khottob, Ali bin Abi Tholib, Thalhah, Az Zubair, Ubay bin Ka'b, Zaid bin Tsabit, Mu'awiyah bin Abi Sufyan, Muhammad bin Maslamah, Al Arqom bin Abil Arqom, Aban bin Sa'id bin Al 'Ash, saudaranya Kholid bin Sa'id, Tsabit bin Qois, Hanzholah bin Ar Robi', Kholid bin Walid, Abdullah bin Al Arqom, Abdullah bin Zaid bin Abdi Robbihi, Al 'Ala bin 'Uqbah, Al Mughiroh bin Syu'bah, Syurahbil bin Hasanah.
Dan yang paling banyak menulis wahyu di antara mereka adalah Zaid bin Tsabit dan Mu'awiyah bin Abi Sufyan Radhiyallahu 'anhum.

Demikianlah serba-serbi singkat tentang Rasulullah -shalallahu 'alaihi wa sallam- semoga bermanfaat. Allahu ta'ala A'lam, wa shallallahu wa sallam 'ala nabiyyina Muhammad wa 'ala alihi wa shahbihi ajma'in…

Referensi :
Tahdzibus Siroh An Nabawiyyah karya Imam Nawawi, di tahqiq oleh Kholid Asy Syayi'.

I'rif Nabiyyaka shallallahu 'alaihi wasallam karya DR. 'Adil Asy Syuddi dan DR. Ahmad Al Mazid

Muhammad Abbas,Lc  Alumnus Fakultas Hadits Universitas Islam Madinah

21 November 2014

Definisi Sahabat Nabi

Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khaththob, Ustman bin 'Affan ,'Ali bin Abi Tholib, Mu'awiyah bin Abi Sufyan, dan Abdullah bin 'abbas radiyallahu 'anhum ajmai'in.

Membaca nama-nama di atas, tentu terlintas sesuatu di benak yang mengatakan adanya hubungan antar satu nama dengan lainnya, ..aha.. anda benar, mereka adalah "Sahabat Nabi". Deretan nama di atas hanyalah sebagian kecil dari keseluruhan sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam.

“Sahabat Nabi", ketika kata ini terdengung di telinga pikiran mengawang menuju masa 14 abad yang lalu dimana gurun pasir terbentang luas di tanah arab lengkap dengan pedang – pedang yang digenggam para sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam ketika berperang.

Atau terlintas di pikiran kita yaitu orang – orang yang selalu di samping Rasulullah shallallahu  'alaihi wasallam yang merupakan manusia–manusia ahli ibadah.  Namun sejatinya apakah definisi sahabat ini? Apakah hewan–hewan yang bertemu Rasulullah shallallahu  'alaihi wasallam di zaman beliau merupakan sahabat? Bagaimana pula dengan Najasyi yang beriman di zaman Rasulullah shallallahu  'alaihi wasallam, namun tidak pernah bertemu dengan beliau, apakah dia juga disebut sebagai seorang sahabat? Untuk mengetahui itu semua ada baiknya kita menyelami tulisan para ulama tentang definisi sahabat.
Definisi Sahabat

Ibnu Hajar Al-Asqolani rahimahullah –seorang ulama ahli hadits abad ke-9 menjelaskan tentang definisi sahabat:

من لقي النبي صلى الله عليه و سلم مؤمنا به و مات على الإسلام
(Man laqiya an-nabiyya shollallahu 'alaihi wasallam mu'minan bihi wa maata  'ala al-Islam)

Artinya : Siapa saja yang bertemu dengan Rasulullah -shalallahu 'alaihi wa sallam- dalam keadaan beriman dan meninggal sebagai orang Islam.” 

 ( Al-Isobah fi Tamyiizi As-Shohabah, Ibnu Hajar 1/10 . Dinukil dari : Ruwat Al-Hadist , Dr. Awwad Ar-Ruwaitsy, hal : 26 )

Melihat Definisi di atas maka tergambar jelas siapa saja yang  masuk dalam kategori sahabat dan yang bukan.

Yang termasuk dalam definisi Sahabat adalah  :

 [a] Pria Dan Wanita
Definisi di atas menggunakan kata "man" yang ditunjukkan untuk sesuatu yang berakal, berarti "siapa saja baik laki–laki maupun perempuan yang berakal" termasuk dalam kata ini.

[b] Orang yang bertemu dengan Nabi shallallahu  ‘alaihi wasallam baik dalam tempo yang lama atau cuma sebentar; baik meriwayatkan hadits dari beliau atau tidak; baik ikut berperang bersama beliau atau tidak. Demikian juga orang yang pernah melihat beliau sekali pun tidak duduk dalam majelis beliau, atau orang yang pernah berjumpa dengan beliau walaupun tidak melihat karena buta.

[c] Masuk dalam definisi ini pula orang yang beriman lalu murtad kemudian kembali lagi kedalam Islam dan wafat dalam keadaan Islam seperti Asy’ats bin Qais radhiyallahu 'anhu.

Yang Tidak Termasuk Definisi di Atas  :

[a] Orang gila, hewan, batu, tumbuh–tumbuhan dan sebagainya yang tidak berakal.
[b] Orang yang bertemu Rasulullah 'alaihis sholatu wassalam dalam keadaan kafir meskipun dia masuk Islam sesudah sesudah Rasulullah -shalallahu ‘alaihi wa sallam- wafat
[c] Orang–orang yang beriman di masa Rasulullah shallallahu  'alaihi wasallam dan wafat dalam keadaan islam namun tidak pernah sama sekali berjumpa dengan beliau, seperti raja Najasyi.
[d] Orang yang beriman kepada Rasulullah shallallahu  'alaihi wasallam kemudian murtad dan wafat dalam keadaan murtad. Wal’iyaadzubillah.

Referensi: Diktat Mata Kuliah Ruwatul Hadits, Fakultas Hadits Semester 2 Universitas Islam Madinah, Penyusun Diktat: DR.'Awwad Ar-Ruwaitsi (Dosen Pengampu Mata Kuliah Ruwatul Hadits)

Oleh: Rizqo Kamil Ibrahim, Mahasiswa Fakultas Hadits Semester 7 Universitas Islam Madinah.

Arsip

Text Widget

Copyright © Jejak Nabi | Powered by Blogger

Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com